Serang – Deteksi dini kanker payudara menjadi langkah penting yang dapat menyelamatkan banyak nyawa. Menyadari besarnya ancaman penyakit ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten menargetkan skrining kanker payudara bagi 1.456.983 perempuan di seluruh wilayah Banten pada tahun 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS, menjelaskan bahwa program ini sejalan dengan program nasional pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular. Upaya ini diharapkan dapat menemukan kasus kanker payudara pada tahap awal, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif.
“Deteksi dini bisa dilakukan mulai dari rumah melalui pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan klinis di fasilitas kesehatan atau SADANIS. Keduanya sama-sama penting untuk menjaga kesehatan payudara,” ujarnya di Serang, Senin, (11/8/25).

Pemeriksaan mandiri SADARI (Periksa Payudara Sendiri) dapat dilakukan 7–10 hari setelah hari pertama menstruasi, atau di tanggal yang sama setiap bulan bagi perempuan yang sudah menopause. Langkahnya meliputi pengamatan bentuk dan ukuran payudara di depan cermin, mengangkat kedua tangan untuk melihat perubahan bentuk, meraba seluruh bagian payudara dengan tiga jari tengah, memeriksa area ketiak, dan menekan puting untuk melihat apakah ada cairan yang keluar.
Sementara itu, SADANIS (Periksa Payudara oleh Tenaga Kesehatan) dilakukan di puskesmas, rumah sakit, atau klinik. Petugas medis akan memeriksa kondisi payudara secara langsung dan memberikan rujukan pemeriksaan lanjutan seperti USG atau mammografi bila diperlukan. Pemeriksaan klinis ini direkomendasikan setiap tiga tahun sekali bagi perempuan usia 20–39 tahun, dan setiap tahun bagi usia 40 tahun ke atas disertai mammografi sesuai indikasi medis.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain adanya benjolan di payudara atau ketiak yang tidak hilang, perubahan bentuk atau ukuran payudara secara tiba-tiba, kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk, puting tertarik ke dalam, dan keluarnya cairan yang tidak normal dari puting.
Skrining kanker payudara akan difokuskan pada perempuan usia produktif dan kelompok berisiko tinggi di seluruh kabupaten/kota di Banten. Pemeriksaan dapat dilakukan di puskesmas, rumah sakit, klinik, posyandu, maupun posbindu. Selain pemeriksaan fisik, program ini juga mencakup edukasi tentang gejala kanker payudara, teknik pemeriksaan mandiri, serta pentingnya melakukan pemeriksaan secara rutin. Seluruh hasil skrining akan dicatat melalui aplikasi ASIK CKG untuk memudahkan monitoring dan evaluasi capaian.
“Mari kita bersama meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap kanker payudara dengan melakukan pemeriksaan sejak dini melalui SADARI dan SADANIS di fasilitas kesehatan terdekat,” tegas dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS.
Dinas Kesehatan Provinsi Banten berharap, dengan adanya program skrining masif ini, angka kematian akibat kanker payudara dapat ditekan secara signifikan dan kualitas hidup perempuan di Banten semakin meningkat. (Adv)



