Banten – Siapa bilang kanker paru hanya menyerang perokok? Faktanya, penyakit mematikan ini bisa datang tanpa pandang bulu, bahkan kepada mereka yang sama sekali tidak pernah merokok. Polusi udara, asap rokok orang lain, debu, bahan kimia, bahkan faktor keturunan bisa menjadi pemicu terjadinya kanker paru.
Menyadari ancaman tersebut, Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Kesehatan menargetkan 191.711 warga berusia 45–71 tahun menjalani skrining kanker paru secara gratis pada 2025. Program ini merupakan bagian dari deteksi dini penyakit tidak menular yang terintegrasi di Aplikasi Sehat Indonesiaku Cek Kesehatan Gratis (ASIK CKG).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS, mengatakan bahwa selama ini banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut karena gejala awal kanker paru sering kali tidak disadari. Gejalanya, seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau nyeri dada, kerap dianggap masalah kesehatan biasa sehingga penanganan terlambat dilakukan.
“Banyak pasien datang saat kanker paru sudah stadium lanjut, karena gejala awalnya samar. Melalui skrining, kita bisa temukan lebih awal dan tingkat keberhasilan pengobatan jauh lebih besar,” ujarnya di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Senin, (11/8/25).
Pelaksanaan skrining kanker paru ini dilakukan secara bertahap. Petugas kesehatan akan melakukan wawancara dan penilaian risiko untuk mengetahui riwayat merokok, paparan polusi, serta riwayat penyakit keluarga. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan kesehatan paru untuk mengecek fungsi pernapasan dan mendeteksi tanda-tanda kelainan. Bagi warga yang masuk kategori risiko tinggi, akan dilakukan pemeriksaan penunjang berupa rontgen dada atau low-dose CT scan sesuai indikasi medis. Semua data hasil pemeriksaan dicatat dalam ASIK CKG sebagai bagian dari sistem digital nasional untuk memudahkan pemantauan dan tindak lanjut.
Warga yang disarankan mengikuti skrining ini adalah mereka yang berusia 45–71 tahun, perokok aktif atau yang berhenti merokok kurang dari 15 tahun, sering terpapar asap rokok, bekerja di lingkungan dengan paparan debu, asbes, atau bahan kimia, tinggal di daerah dengan polusi tinggi, serta memiliki riwayat keluarga yang pernah menderita kanker paru.
“Jangan menunggu gejala muncul. Program ini ada untuk melindungi kita semua. Mari manfaatkan fasilitas skrining gratis yang ada di puskesmas dan fasilitas kesehatan terdekat,” tegas dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS.
Program skrining kanker paru ini akan digelar serentak di seluruh kabupaten/kota di Banten sepanjang tahun 2025 melalui puskesmas dan fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Banten. Dengan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat, angka kematian akibat kanker paru diharapkan dapat ditekan sejak dini, sekaligus meningkatkan angka harapan hidup warga Banten di masa mendatang. (Adv)



