SERANG, Kabarreformasi.com – Sebuah era baru sedang bergulir di jantung Ibu Kota Banten. Kawasan Royal di Kota Serang, yang selama ini dikenal sebagai simpul perdagangan yang padat, kini tengah bersiap menyambut metamorfosis epik.
Bukan sekadar penataan infrastruktur biasa, proyek ambisius ini adalah perwujudan visi “Serang Bagus” yang diusung oleh duet kepemimpinan Wali Kota Budi Rustandi dan Wakil Wali Kota Nur Agis Aulia.

Bertujuan menyulap Royal menjadi etalase modern yang setara dengan pesona legendaris Braga di Bandung dan Malioboro di Yogyakarta.
Dengan alokasi anggaran awal senilai Rp10 miliar dari APBD 2025, Pemerintah Kota Serang memulai langkah konkret.
Investasi ini difokuskan pada pembangunan pedestrian yang lebar dan nyaman, penataan sistem drainase yang modern, hingga yang paling krusial: penanaman kabel di bawah tanah.
Upaya ini akan menghilangkan kesemrawutan kabel udara, menciptakan langit kota yang bersih, dan memperkuat citra Serang sebagai Ibu Kota Provinsi yang representatif.
“Royal akan kita tata sebagai sentra ekonomi baru yang ikonik, layaknya Braga dan Malioboro yang dikenal turis. Ini bukan hanya proyek jalan, tetapi upaya fundamental untuk menghidupkan ratusan UMKM dan sekaligus menjadi wajah kebanggaan Banten,” tegas Wali Kota Budi Rustandi.
Katalisator Ekonomi: Panggung Baru untuk Ratusan UMKM
Proyek Royal ini diyakini akan bertindak sebagai katalisator utama bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kawasan ini dirancang bukan lagi sekadar tempat berbelanja, melainkan destinasi wisata belanja dan kuliner yang hidup sepanjang hari.
Pemkot bahkan berencana mengoptimalkan daya tarik kawasan melalui Peraturan Wali Kota (Perwal) yang mengatur konsep tematik. Royal akan dibagi menjadi klaster menarik:
Pertama, Pusat Kuliner Khas Serang, untuk menghidangkan kekayaan rasa lokal, kedua sentra sepatu dan pakaian trendi untuk menarik minat pembeli muda dan fashion-conscious.
Ketiga Pusat Coffee Shop dan Tempat Nongkrong Modern, untuk enciptakan atmosfer kota wisata yang vibrant.
“Konsepnya jelas: kuliner, sepatu, pakaian, dan ruang komunal untuk nongkrong. Dengan penataan tematik ini, Royal akan memiliki daya tarik wisata yang kuat, jauh melampaui sekadar tempat belanja biasa,” tambah Budi.
Proyek revitalisasi Royal adalah pertaruhan besar yang membawa harapan bagi seluruh masyarakat Banten.
Ini adalah langkah krusial agar Kota Serang benar-benar tampil sebagai Ibu Kota Provinsi yang modern, tertata, dan menarik bagi investor maupun wisatawan.
Jika tahap pertama ini rampung pada akhir 2025, Pemkot Serang telah merencanakan tahap lanjutan pada 2026, yaitu menghadirkan kampung-kampung tematik di lingkungan sekitar Royal.
Dengan demikian, transformasi tidak hanya terjadi di jalan utama, tetapi juga merambah ke lingkungan masyarakat, memastikan keberlanjutan ekonomi dan budaya.
“Ketika penataan kawasan Royal selesai, Insya Allah Kota Serang akan lebih hidup. Kawasan ini akan menjadi daya tarik bukan hanya untuk warga lokal, tetapi juga bagi wisatawan dan pebisnis dari luar daerah,” tutup Wali Kota Budi Rustandi.
Inilah saatnya Kota Serang bersinar. Kawasan Royal bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan janji masa depan bagi Banten, menjelma menjadi ‘Braga ala Serang’ yang dinantikan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Serang, Asep Setiawan menyebut rencana tersebut mendapat dukungan dari masyarakat. Oleh karena itu, ia berharap pembangunan Pasar Royal berjalan kondusif.
“Ini untuk kemajuan Kota Serang, sehingga harus kondusif. Langkah yang diambil oleh Pak Wali semata-mata untuk kemajuan masyarakat Kota Serang,” katanya.
Dukungan positif pun mengalir dari pelaku usaha. Fadil, pemilik More Shop yang telah berjualan sejak 1995, menyambut optimisme ini.
“Setelah puluhan tahun tidak ada perubahan, sekarang baru ada gebrakan nyata. Jika berhasil, Royal berpotensi menjadi segitiga emas perekonomian Kota Serang,” ujarnya penuh harap. (Adv)



