Kabarreformasi.com – Dalam laju hidup yang penuh target, novel Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka menawarkan arah lain: berjalan pelan. Setiawan Chogah menulis bukan untuk memukau dengan kejutan plot, melainkan untuk menemani pembaca menunduk—mendengar gesekan daun, mencium wangi cendana, atau sekadar duduk di bangku taman.
Novel ini menghadirkan kisah Raif dan orang-orang di sekitarnya, yang mencoba hidup jujur pada luka. Tidak ada jalan pintas menuju bahagia; yang ada adalah keberanian untuk merawat luka dengan cara yang tidak merusak.
Flora sebagai Penuntun
Setiap bab ditandai dengan pohon atau tanaman: Plumeria alba yang gugur lalu mekar kembali, Cassia fistula yang mekar singkat, hingga Michelia champaca yang pergi dengan diam-diam. Kehadiran flora ini bukan ornamen, melainkan metafora. Setiawan ingin mengingatkan bahwa alam sudah lama memberi kita bahasa—kita hanya perlu berhenti sejenak untuk mendengarnya.
Penulis yang Setia pada Hening
Setiawan Chogah bukan nama baru. Esai-esainya pernah beredar luas, menjadi teman bagi banyak orang yang sedang mencari arah. Lalu ia berhenti sejenak, menekuni tulisan-tulisan praktis tentang finansial dan pengembangan diri. Kini, ia kembali ke fiksi dengan napas baru: fiksi yang terasa nyata, karena “berutang pada kenyataan”. Tokoh-tokohnya adalah manusia biasa yang mungkin kita temui di pasar, di kantor, atau di rumah sebelah.
Membaca Gratis, Menyiram Pohon
Novel ini untuk sementara bisa dibaca gratis di Wattpad. Setiawan memang sengaja membagikannya tanpa biaya, sebagai bentuk komitmen untuk menjadikan literasi sebagai ruang bersama. Ia percaya, cerita tidak harus selalu dikurung harga. Meski begitu, ia juga sedang menyiapkan versi cetak terbatas—sebuah edisi yang bisa menjadi rumah bagi mereka yang ingin menyimpan pohon-pohon ini lebih lama.
Versi digital juga unik: setiap bab disertai ilustrasi dan kidung pengantar. Pembaca disarankan untuk memutar kidung itu sebelum membaca, agar ritme hati selaras dengan cerita. Ini membuat pengalaman membaca terasa seperti ritual kecil: hening, hangat, dan penuh hormat.
Menjadi Tanah yang Subur
Apa yang ditawarkan novel ini bukan jawaban, melainkan ruang. Ruang untuk menangis tanpa malu, ruang untuk jujur pada diri sendiri, ruang untuk menanam kembali sesuatu yang pernah hilang. Seperti tanah yang subur, novel ini tidak memilih siapa yang tumbuh di atasnya. Ia hanya menyediakan ruang.
Setiawan Chogah melalui Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka mengajak kita berhenti sejenak. Menoleh pada pohon, pada diri sendiri, pada orang-orang yang kita cintai. Sebab mungkin, di antara gemuruh hidup, yang kita butuhkan hanyalah satu kalimat lirih: kamu layak—untuk ada, untuk pulang, untuk tumbuh.



