Lebak, Kabarreformasi.com – Produksi palawija di Kabupaten Lebak, Banten, sepanjang Januari sampai November 2023 menebus 22.857 ton dan dipastikan bisa menggulirkan perputaran uang hingga miliaran rupiah.
“Kami meyakini perguliran uang dapat meningkatkan pendapatan ekonomi petani,” kata Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak, Minggu. (26/11/23)
Selama ini, tanaman palawija menjadi andalan ekonomi masyarakat Kabupaten Lebak mulai petani, buruh tani, buruh panggul, transportasi hingga pedagang pengecer.
Pemerintah daerah mendorong para petani terus meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman palawija. Sebab, permintaan komoditas produksi palawija di pasaran cenderung meningkat.
“Kita berharap produksi palawija ke depan bisa memenuhi permintaan pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang,” katanya menjelaskan.
Menurut dia, produksi enam komoditas palawija yang dikembangkan petani Kabupaten Lebak antara lain jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, singkong dan ubi jalar.
Produksi palawija sebanyak 22.857 ton terbagi atas jagung sebanyak 3. 169 ton, kedelai 474 ton, kacang tanah 237 ton, kacang hijau 13 ton, singkong 16. 749 ton dan ubi jalar 2. 216 ton.
Saat ini, kata dia, kebanyakan produksi palawija tersebut dapat memenuhi permintaan Pasar Rangkasbitung dan Perusahaan Ternak di Balaraja, Tangerang.
“Kami minta petani dapat meningkatkan produksi dan produktivitas palawija guna memenuhi ketersediaan pangan,” kata Deni.
Ia mengatakan, selama ini, produksi palawija mampu menumbuhkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sehingga mendorong peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat setempat.
Para pelaku UMKM itu memproduksi aneka kerajinan makanan camilan, seperti keripik pisang, keripik singkong, keripik ubi jalar, krispy, kerupuk, bolu dan lainnya.
Selain itu produksi palawija bisa dijadikan makanan alternatif yang memiliki aneka ragam rasa dan variasi sehingga dapat menggantikan ketergantungan beras.
Sementara itu, Ujang (55) seorang petani Kecamatan Curugbitung Kabupaten Lebak mengaku dirinya kini panen singkong seluas dua hektare dengan produksi 30 ton dengan harga Rp4.000/kilogram.
Para petani di sini yang mengembangkan tanaman singkong itu dengan memanfaatkan lahan milik perusahaan yang belum digunakan untuk pembangunan.
“Kami sejak tujuh tahun usaha pertanian singkong dan bisa membangun rumah dan menyekolahkan dua anak sampai perguruan tinggi,” katanya.



