Serang – Dinas Kesehatan Provinsi Banten ajak masyarakat kenali gejala dan Pencegahan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang sering terabaikan.
Penyakit Paru Obstruktif Kronis atau PPOK kini semakin menjadi perhatian di Indonesia, terutama di kalangan perokok aktif, perokok pasif, dan mereka yang terpapar polusi udara. Penyakit ini dapat menyerang tanpa disadari dan seringkali baru terdiagnosis pada tahap yang sudah parah. Pemahaman masyarakat mengenai gejala dan pencegahannya sangat penting untuk menekan angka penderita penyakit ini.
PPOK adalah penyakit yang menyerang paru-paru jangka panjang dan tidak menular.
Penyakit ini menyebabkan aliran udara terhambat, sehingga penderitanya mengalami kesulitan bernapas. Penyakit ini dapat di obati jika ditangani dengan tepat. Namun bersifat progresif, artinya akan semakin parah seiring waktu jika tidak ditangani dengan tepat. Dua kondisi utama yang termasuk PPOK adalah Bronkitis kronis (Peradangan pada saluran pernapasan yang berlangsung dalam jangka panjang) dan Emfisema (Penyakit paru-paru kronis yang menyebabkan kerusakan pada kantung udara).
Prevalensi Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) cenderung tinggi secara global dan terus meningkat, Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PPOK adalah salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti menjelaskan bahwa WHO melaporkan bahwa lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia menderita PPOK, dan penyakit ini menyumbang sekitar 3 juta kematian setiap tahunnya, menjadikannya penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia.
“Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, prevalensi PPOK relatif tinggi karena tingginya angka perokok dan paparan polusi udara yang meningkat. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi PPOK di Indonesia termasuk Provinsi Banten pada kelompok usia 30 tahun ke atas mencapai 3,7%. Di antara faktor risiko utama adalah merokok, yang masih dilakukan oleh lebih dari 60% pria dewasa di Indonesia, serta polusi udara di daerah perkotaan dan paparan asap dari bahan bakar masak di pedesaan,” jelasnya.
Gejala Utama PPOK yang Sering Diabaikan
Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka menderita PPOK, terutama pada tahap awal. Berikut adalah beberapa gejala umum yang perlu diwaspadai:
1. Batuk Kronis dengan atau tanpa dahak
Batuk yang berlangsung selama berbulan-bulan, terutama di pagi hari, merupakan gejala khas PPOK.
2. Mengi/Sesak Napas
Penderita PPOK sering merasa sesak, terutama saat melakukan aktivitas fisik ringan, Terkadang disertai bunyi.
3. Produksi Dahak Berlebihan
Dahak atau lendir berlebih yang sulit dikeluarkan juga sering dialami oleh penderita PPOK.
4. Kelelahan
Karena sesak napas, tubuh penderita kekurangan oksigen, menyebabkan mereka mudah lelah dan lemas
5. Rasa berat di dada
6. Penurunan Berat Badan
Penyebab PPOK dan Faktor Risiko
“Penyebab utama PPOK adalah merokok. Asap rokok mengandung zat berbahaya yang merusak paru-paru seiring waktu. Selain itu, polusi udara, paparan bahan kimia, dan faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko PPOK. Menghirup debu atau asap berbahaya di tempat kerja, seperti di pabrik atau bengkel, juga berpotensi menyebabkan PPOK,” paparnya.
Upaya Pencegahan PPOK
Langkah pencegahan utama PPOK adalah dengan menghindari paparan bahan yang merusak paru-paru. Yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit ini. Berikut adalah beberapa tips untuk mencegah penyakit PPOK seperti Berhenti Merokok, Menghindari Polusi Udara, Menerapkan Gaya Hidup Sehat, Pemeriksaan Kesehatan Rutin dan Pencegahan PPOK dengan Kuesioner PUMA.
Pentingnya Edukasi dan Kesadaran Masyarakat
Ati menjelaskan, penyuluhan dan edukasi tentang PPOK perlu digalakkan, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi. Kampanye berhenti merokok, pemeriksaan kesehatan berkala, serta pemahaman mengenai bahaya polusi udara adalah kunci dalam menekan angka penderita PPOK di Indonesia khususnya di Banten.
PPOK adalah penyakit serius yang dapat dicegah melalui deteksi dini dan manajemen faktor risiko. Kuesioner PUMA menjadi alat praktis untuk mengidentifikasi risiko PPOK pada populasi yang rentan yaitu : Perokok Aktif dan Pasif, Pekerja dengan Paparan Polusi atau Debu, Orang Berusia di Atas 40 Tahun, Orang yang Tinggal di Area dengan Polusi Udara Tinggi, Riwayat Infeksi Pernapasan di Masa Kecil, dan Faktor Genetik).
Dengan menerapkan kuesioner PUMA di layanan kesehatan primer, diharapkan lebih banyak pasien dapat terdeteksi dan mengambil langkah pencegahan yang diperlukan, sehingga prevalensi dan dampak PPOK dapat berkurang secara signifikan.
“Dengan mengenali gejala dan memahami cara pencegahannya, masyarakat dapat melindungi diri mereka dari penyakit paru-paru yang berbahaya ini. PPOK memang penyakit yang kronis, namun dengan penanganan yang tepat dan gaya hidup sehat, penderita bisa tetap memiliki kualitas hidup yang baik” pungkasnya. (Adv)



