Bandung, Kabarreformasi.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memperkuat peran Guru Bimbingan Konseling (BK) sebagai garda terdepan dalam membangun ekosistem sekolah yang sehat secara mental.
Langkah ini diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertema “Penguatan Peran BK Hebat Untuk Sekolah Sehat Mental” yang digelar oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung di Aula SMA BPI, Jalan Burangrang, Kota Bandung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyebut, program ini merupakan bagian dari training for trainers (TOT) bagi para Guru BK agar memiliki kapasitas melakukan asesmen awal terhadap kondisi psikologis peserta didik.
“Dalam rangka melakukan training for trainers bagi para guru BK untuk meningkatkan kapasitas sehingga para guru BK bisa membangun sebuah ekosistem sekolah sehat mental. Berdasarkan data hasil survei Dinas Kesehatan, ada puluhan ribu anak sekolah di Kota Bandung yang mengalami gangguan kesehatan mental,” ujar Farhan.
Melalui program ini, Pemkot Bandung menggandeng Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) untuk memberikan pembekalan langsung kepada para Guru BK.
Mereka dilatih melakukan deteksi dini dan asesmen awal, sehingga permasalahan mental siswa dapat diidentifikasi lebih cepat sebelum berkembang menjadi kasus yang lebih berat.
Farhan menjelaskan, jika dalam asesmen ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lanjutan, maka siswa dapat dirujuk untuk berkonsultasi dengan psikolog di sekolah atau psikolog klinis di Puskesmas, sesuai dengan program yang telah disiapkan oleh Kementerian Kesehatan.
Menurutnya, fasilitas utama yang dibutuhkan di sekolah bukanlah sarana yang rumit, melainkan keterampilan Guru BK dalam memantau dan mendampingi siswa.
“Yang penting punya ruangan konseling, karena rata-rata sekolah sudah memiliki ruang tersebut. Ini sangat tergantung pada skill pemantauan dari Guru BK,” jelasnya.
Program ini dilaksanakan secara bertahap hingga Triwulan II tahun ini. Selama periode tersebut, akan dilakukan pengukuran untuk memetakan jumlah siswa yang mengalami kendala kesehatan mental beserta faktor penyebabnya. Hasil pengukuran ini akan menjadi dasar evaluasi pada triwulan berikutnya.
Farhan juga menggarisbawahi pentingnya keterbukaan komunikasi antara sekolah dan orang tua murid. Peran Guru BK tidak hanya menjaga komunikasi dengan siswa, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi dengan orang tua.
“Keterbukaan di antara sekolah dan orang tua murid ini menjadi salah satu kunci untuk menjaga agar anak kita berada dalam kondisi kesehatan mental yang baik,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Gufron menilai, peran Guru BK saat ini tidak lagi sebatas menangani pelanggaran disiplin, melainkan menjadi garda terdepan dalam menjaga kesejahteraan psikologis peserta didik.
“Peran Guru BK saat ini bukan lagi sebagai ‘polisi sekolah’, tetapi menjadi pelindung kesejahteraan psikologis anak-anak kita. Melalui bimtek ini, kami ingin memastikan setiap anak di Kota Bandung mendapatkan pendampingan yang tepat jika mengalami kendala mental,” ujarnya.
Ia berharap, seluruh peserta dapat menyerap materi dari para psikolog dan praktisi yang hadir, lalu mengimplementasikannya di sekolah masing-masing demi terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan sehat secara mental. (Red)



