SERANG KOTA,Kabarreformasi.com – Kota Serang menunjukkan peran strategisnya sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru di Provinsi Banten. Hal ini tercermin dari meningkatnya arus migrasi masuk, dinamika ekonomi, hingga tantangan ketenagakerjaan yang masih perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten per 5 Mei 2026, Kota Serang tercatat sebagai salah satu daerah tujuan utama migrasi di Banten dalam lima tahun terakhir. Sekitar 3–4 dari setiap 100 penduduk usia di atas 5 tahun tercatat melakukan perpindahan masuk ke wilayah ini.
Fenomena ini menegaskan bahwa Kota Serang semakin dilirik sebagai pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan, sekaligus menjadi magnet bagi penduduk dari daerah lain.
Daya tarik Kota Serang tidak terlepas dari berkembangnya proyek infrastruktur dan kawasan industri. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengembangan Kawasan Industri Sawah Luhur yang masih berjalan hingga triwulan I 2026.
Selain itu, pembangunan sejumlah proyek strategis di Banten, seperti jalan tol Serang–Panimbang dan Serpong–Balaraja, turut memperkuat konektivitas wilayah, yang secara tidak langsung meningkatkan posisi Kota Serang sebagai simpul pertumbuhan ekonomi baru.
Secara umum, ekonomi Provinsi Banten pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,64 persen (year-on-year). Pertumbuhan ini didorong oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, serta konsumsi rumah tangga.
Kondisi ini turut memberikan dampak positif bagi Kota Serang sebagai ibu kota provinsi, terutama pada sektor perdagangan, jasa, dan konstruksi yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi perkotaan.
Di sisi lain, peningkatan mobilitas masyarakat selama momen hari besar keagamaan juga ikut mendorong aktivitas ekonomi, termasuk di wilayah Serang dan sekitarnya.
Meski peluang ekonomi terbuka, tantangan di sektor ketenagakerjaan masih terlihat. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Banten pada Februari 2026 tercatat sebesar 6,59 persen.
Lapangan pekerjaan masih didominasi sektor perdagangan, industri, dan pertanian. Namun, terjadi peningkatan jumlah pekerja informal dibandingkan tahun sebelumnya, yang menandakan masih terbatasnya pekerjaan formal yang tersedia.
Selain itu, sebagian besar tenaga kerja masih berpendidikan menengah ke bawah, meskipun tren peningkatan pendidikan tinggi mulai terlihat.
Dari sisi kependudukan, Kota Serang memiliki angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) sebesar 2,06, sedikit di atas rata-rata Banten yang berada di angka 1,96.
Sementara itu, angka kematian bayi di Kota Serang tercatat sekitar 12,20 per 1.000 kelahiran hidup, menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya meskipun masih perlu peningkatan layanan kesehatan.
Menariknya, persentase penduduk lanjut usia di Kota Serang masih berada di bawah ambang ageing population (10 persen), sehingga struktur penduduknya masih didominasi usia produktif.
Dalam aspek sosial, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Banten tahun 2025 tercatat sebesar 0,418, membaik dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski data spesifik Kota Serang menunjukkan tingkat ketimpangan masih lebih tinggi dibanding beberapa kota lain di Banten, tren perbaikan ini menjadi sinyal positif bagi pembangunan yang lebih inklusif.
Dengan meningkatnya arus migrasi ke Kota Serang, pemerintah daerah dihadapkan pada tantangan baru, seperti penyediaan lapangan kerja, perumahan, infrastruktur, hingga layanan publik.
BPS menekankan pentingnya peningkatan konektivitas dan pemerataan pembangunan antarwilayah, khususnya antara Banten Utara dan Selatan, agar pertumbuhan tidak terpusat di wilayah tertentu saja.
Kota Serang, dengan segala potensinya, kini berada di persimpangan penting: menjadi motor penggerak ekonomi daerah sekaligus menghadapi tekanan urbanisasi yang semakin meningkat.(Ir)



